Dengan informasi yang cukup, aktivitas akan menjadi lebih mudah.

Monday, January 30, 2012

Teladan Kemandirian Nabi Muhammad SAW


Rasulullah saw juga mengajarkan umatnya untuk hidup mandiri. Kalau kita menelusuri jejak hidup beliau, akan kita temukan betapa beliau seorang yang sangat mandiri. Beliau tak segan mengerjakan pekerjaan kasar sebagaimana dikerjakan orang kebanyakan. Beliau sering menambal sendiri jubahnya, menjahit sepatunya, dan melakukan setumpuk pekerjaan rumah. Bagi beliau, pekerjaan kasar tidak mengurangi sedikitpun kemuliaannya sebagai Utusan Allah.

Suatu hari Nabi saw dan para Sahabat melakukan sebuah perjalanan dan perlu berkemah. Ketika hendak mengolah makanan, mereka berebut untuk ambil bagian.

Salah seorang Sahabat berkata:” Aku yang menyembelih kambingnya.” Yang lain menyahut:” Aku yang mengulitinya.” Rasulullah saw tidak mau kalah. Beliau berkata :” Aku yang mencari kayu bakarnya.”Mendengar inisiatif Rasulullah saw tersebut, para Sahabat kemudian berkata:” Biarkan kami saja yang mengerjakan semuanya. Lebih baik engkau beristirahat saja”.


Rasulullah saw kemudian bersabda:” Aku tahu, kalian pasti tidak menghendaki aku mengerjakan hal ini, tapi Allah tidak suka melihatku mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini”. Setelah itu, beliau meninggalkan para Sahabat menuju padang pasir untuk mengumpulkan kayu bakar.

Bagi sebagian pemimpin, mengerjakan pekerjaan kasar seperti mencari kayu bakar akan dianggap hina, atau setidaknya mengurangi gengsi. Akan tetapi bagi Rasulullah saw, pekerjaan apapun yang dikerjakan secara jujur, profesional, dan bermanfaat untuk semua, maka pekerjaan itu adalah mulia. Kemuliaannya dan kehormatannya tidak berkurang sedikitpun hanya karena beliau mengerjakan pekerjaan kasar. Sebaliknya, beliau merasa bangga dan mulia jika bisa mengerjakan sendiri tugasnya, termasuk tugas kerumahtanggaan.

Rasulullah saw juga pernah pergi ke pasar dan pulangnya membawa beberapa keranjang barang. Melihat Rasulullah saw keberatan membawa barang-barangnya, para Sahabat berinisiatif membawakannya. Namun, Rasulullah saw segera menolaknya. Beliau bersabda:” Kamilah pemilik barang ini, maka kamilah yang paling berhak membawanya.”

Kemandirian yang ditekankan syariat adalah kemauan untuk memenuhi kebutuhan  sendiri dengan bekerja keras agar terhindar dari sikap meminta-minta. Dalam ajaran Islam, meminta-minta adalah pekerjaan hina yang harus dijauhi, kecuali dalam keadaan sangat memaksa.

Islam tidak melarang kaum Muslim menerima pemberian orang lain, akan tetapi menjadi pemberi jauh lebih baik dan mulia. Kita semua dianjurkan untuk memberi dan menjadi “tangan di atas”.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Sumber: Suara Hidayatullah, Januari 2012)

No comments: