Dengan informasi yang cukup, aktivitas akan menjadi lebih mudah.

Friday, December 8, 2017

Menggunakan Angkutan Umum Di Ibukota Oman


Tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melaksanakan kunjungaan keberbagai tempat selama berada di Ibukota Oman Muscat, kami mencoba memanfaatkan angkutan umum. Selain taxi biasa, ada dua lagi pilihan angkutan umum di Muscat yaitu bis dan angkot. Ada juga taxi omprengn. Satu taxi ditumpangi beberapa orang.
Dari kawasan Azaiba, kami bermaksut ingin ke Matrah. Ternyata tidak ada bis atau angkot yang langsung. Harus ke Ruwi dulu. Azaiba-Ruwi jaraknya sekitar 23 km. Pakai taxi tentu mahal. Ada angkot yang menghampiri, biasa tawar menawar. Sepakat ongkosnya 400 Baisa perorang. Kami berdua bearti 800 Baisa. Pengemudi berjanji akan menunjukkan kepada kami tempat mencari taxi di Ruwi. 
Sampai ditempat taxi mangkal, kami didatangi beberapa pengemudi. Harga yang mereka tawarkan awalnya 2 RO. Kami tolak. Turun 1 RO, juga kami tolak. Sebab, menurut supir angkot tarifnya sekitar 200 Baisa. Akhirnya tercapai kesepakatan 300 Baisa. Kami harus menunggu. Tidak lama, ada 2 orang penumpang masuk. Taxi pun berangkat menuju pasar tradisional Matrah. Jarak Ruwi dan Matrah sekitar 4 km.

Pulang dari Matrah, kami ingin menggunakan bis. Tidak ada bis langsung Matrah-Azaiba. Naik bis ke Ruwi ongkosnya 200 Baisa. Bis membawa penumpang memutar dulu ke kota tua Muscat. Diterminal Ruwi terlihat ada 5 jurusan bis. Kami menaiki bis jurusan 1. Ongkos dari Ruwi ke Azaiba 300 Baisa.
Menggunakan angkutan kota di Muscat ibukota negara Oman, relatif nyaman dan aman. Tidak berdesakan. Ruangan berpendingin udara.

Thursday, December 7, 2017

Mengunjungi Pasar Tradisional (Mutrah Souq) Di Oman

Pasar tradisional Mutrah atau Mutrah Souq termasuk tujuan wisata populer di Oman. Tertarik untuk mengunjungi objek wisata tersebut, kami melakukan perjalanan dengan mengunakan angkutan umum. 
Dari kawasan Azaiba Muscat kami naik angkot ke Ruwi. Ongkosnya 400 Baisa perorang. Baisa adalah pecahan dari Real Oman. Satu RO terbagi dalam seribu Baisa. Tidak ada angkot atau bis jurusan Muscat ke Mutrah walaupun jarak Muscat-Ruwi lebih kurang sama dengan Muscat-Mutrah.
Dari Ruwi ke Mutrah Souq kami naik taxi omprengan. Ongkosnya 300 Baisa perorang. Taxi ini membawa 4 orang penumpang. Jadi ngetem dulu. Taxi menurunkan kami dibagian belakang pasar. Terasa pasar sepi- sepi aja. Waktu itu sekitar pukul 10 pagi dan bukan hari libur.
Menyusuri lorong-lorong pasar, akhirnya kami sampai dibagian depan. Bagian depan Mutrah Souq ada gerbangnya. Terletak dipinggir jalan utama Mutrah. Sisi lain jalan ini berada di pinggir pantai. Pantai ini dikenal sebagai Mutrah Corniche.
Lorong-lorong pasar tradisional Mutrah ini bercabang juga. Tidak terlalu sulit untuk menelusurinya. Dikiri kanan lorong terdapat kios. Menurut penglihatan saya, sebagian besar kios menjual pakaian jadi dan tekstil. Ada penjual gamis dan peci khas Oman, parfum dan rempah-rempah. Harga disini lebih murah. Misalnya gamis di mall berharga sekitar 4 atau 5 Real Oman, disini hanya 3 RO. Tawar menawar berlaku, namun turunnya tidak banyak.
(Muscat, 6 Desember 2017)

Wednesday, December 6, 2017

Mengunjungi Pantai Yitti Oman

Satu lagi tempat wisata alam yang menarik untuk dikunjungi di Oman adalah pantai Yitti. Letaknya sekitar 47 km dari Azaiba Muscat. Dengan kendaraan roda 4 dapat ditempuh kurang dari 1 jam. Jalan raya bagus, melintasi pegunungan batu.
Ketika sore itu kami berkunjung, sudah banyak pengunjung meninggalkan pantai. Memasuki areal pantai yang luas dan panjang, kami berpapasan dengan beberapa kendaraan. Tetapi ada juga pengunjung baru datang.
Sebagaimana lazimnya, para wisatawan lokal selalu piknik disamping kendaraannya. Boleh jadi salah satu fungsi kendaraan itu sebagai penahan angin. Sehingga tidak terlalu dingin dan dapat melakukan bakar-bakar. Kami pun melakukan hal yang sama. Setelah mendapatkan posisi, tikar digelar disamping kendaraan. Acara bakar-bakar jagung dan cumi dimulai.
Sekitar pukul 7 malam, terlihat bulan muncul. Seakan terbit dari laut, berwarna merah. Perlahan, bulan penuh menerangi pantai. Semakin terang. Menikmati jagung dan cumi bakar di pantai Yitti ditambah cahaya bulan dan bunyi deburan ombak, jadi kesan tersendiri.

Tuesday, December 5, 2017

Pantai Berbatu Kerikil Di Oman

Gunung batu dan laut merupakan pemandangan umum di Oman. Pemandangan seperti ini terlihat jelas jika kita melakukan perjalanan keluar kota. Laut dengan pantai berpasir hal biasa. Pantai berbatu kerikil tentu kurang biasa.
Di negeri kita, kerikil disebut juga batu sungai/kali. Sebab, batu tersebut adanya disekitar sungai. Ketika mengunjungi salah satu pantai di wilayah Sur Oman, saya menemukan banyak sekali batu kerikil berbagai ukuran. Tidak terlihat ada sungai. Juga tidak terlihat tanda-tanda batu itu sengaja di datangkan. 
Penasaran, saya bertanya kepada salah seorang kerabat. Menurutnya, batu itu memang dari laut. Dibawa gelombang ke pantai. Maka jadilah pantai berbatu krikil. Batu kerikil berbagai ukuran ini dapat dilihat di taman-taman kota. Untuk menambah daya taman.
Saya tidak tahu apakah batu kerikil itu juga digunakan sebagai bahan bangunan. Di lapangan terbuka, selalu telihat adanya batu-batu kerikil diantara hamparan tanah.
(Muscat Oman, 4 Desember 2017)

Monday, December 4, 2017

Piknik Ala Oman Di Pantai Sur

Tidak lama setelah meninggalkan kota Sur, kami mulai mencari posisi pantai yang nyaman untuk piknik. Beberapa kali mencari posisi, akhirnya kami menemukan pantai landai berpasir dan batu krikil. Lumayan nyaman untuk piknik. Parkir mobil pun cukup dekat. Disekitar sudah ada beberapa kelompok piknik. Ada pula yang baru datang.
Khawatir kehilangan tempat yang baik, kami segera menggelar tikar dan menurunkan bekal. Makan nasi bariani dan minum karaktea di tepi pantai memang punya kesan tersendiri. Waktu sudah menjelang maghrib.
Shalat kami lakukan ditempat itu. Wudhu menggunakan air laut. Selesai shalat, kami mempersiapkan peralatan pancing. Seorang warga lokal datang menghampiri dan menawarkan teh panas. Terjadi dialog ringan. Keramahan warga Oman.
Suasana malam yang diterangi bulan, angin tidak terlalu kencang membuat kami asik memancing. Rencana bakar-bakar tak jadi dilaksanakan. Tanpa terasa waktu setempat sudah pukul 9 malam. Sudah waktunya siap-siap untuk pulang.
Pemandangan diperjalanan pulang berbeda dengan ketika pergi. Jalan diterangi lampu, sepi. Laut dan gunung tidak terlihat. Hanya sesekali ada cahaya lampu di laut. Mungkin lampu perahu. Ketika akan memasuki wilayah Muscat, terlihat pemandangan indah. Jalan raya yang berada di pegunungan memberi kesempatan untuk melihat kota Muscat diterangi lampu-lampu.
(Muscat, 3 Desember 2017)