Dengan informasi yang cukup, aktivitas akan menjadi lebih mudah.
Showing posts with label Oman. Show all posts
Showing posts with label Oman. Show all posts

Monday, December 18, 2017

Jalan-Jalan Ke Suhar Oman

Minggu malam, 17 Desember 2017. Setelah melakukan shalat di mushalla dilingkungan sebuah pusat perbelanjaan, kami menyusuri jalan raya menuju Suhar. Sebuah kota di Oman berjarak lebih kurang 206 km dari Azaiba Muscat. Jalan basah dan gerimis masih turun.
Jalanan terasa ramai. Disamping kendaraan kecil, banyak pula truk. Mungkin karena jalan ini menghubungkan Oman dengan Dubai, Uni Emirat Arab. Dikiri kanan jalan terlihat pertokoan terang benderang oleh cahaya lampu. Pertanda bahwa jalan ini "hidup".
Tidak lama setelah memasuki gerbang kota Suhar, laju kendaraan tersendat. Ternyata ada genangan air di jalan. Genangan air juga terlihat di tempat parkir dan taman pinggir jalan. Bahkan disebuah persimpangan, aliran air cukup deras. 
Kami memilih sebuah restoran yamani untuk makan malam. Menu utamanya "Nasi Mandi" ayam dan daging unta. Hidangan khas timur tengah. Duduk lesehan diruangan khusus keluarga. Pakai kain pintu penutup ruangan.
Sebelum kembali ke Muscat, kami singgah di depan Masjid Sultan Qaboos Suhar. Ini mesjid Sultan Qaboos keempat yang sempat kami kunjungi setelah Masjid Sultan Qaboos di Muscat, Nizwa dan Fanja. Kemegahan masjid terlihat jelas dari jalan raya. 
(Azaiba, Muscat 18 Desember 2017)

Sunday, December 17, 2017

Mengunjungi Wadi Dayqah Oman


Ditengah pegunungan batu, tiba-tiba terlihat ada danau cukup luas. Airnya biru. Tidak terlihat adanya aliran sungai di hulu. Itulah sedikit gambaran tentang Wadi Dayqah Dam. Sebuah tempat tujuan wisata di Oman. Berjarak kurang lebih 112 km dari Azaiba, Muscat.

Tanda-tanda bahwa tempat tersebut dipersiapkan untuk kunjungan wisatawan sudah dirasakan ketika memasuki pintu gerbang. Pintu gerbang besar, ada pagar dikiri kanannya. Walaupun ada pintu gerbang, masuk gratis. Tidak ada petugas. Dikiri kanan jalan menuju dam ditanami pepohonan. Ada taman juga disekitarnya.

Mendekati dam, pemandangan semakin menarik. Pelataran parkir lumayan luas, tidak ada juru parkir. Ada taman seluas kurang lebih seukuran lapangan sepakbola. Taman ditanami rumput, pohon kurma dan sejenis akasia. Dilengkapi saung, bangku-bangku dan air mancur. Ada warung menjual makanan dan minuman. Juga ada toilet.
Memperhatikan dam, sepertinya hanya untuk menampung air dan objek wisata. Ada jalan untuk pejalan kaki menyusuri dam. Ada jalan untuk kendaraan menuju bagian bawah dan hilir dam. Dihilir dam terlihat pemukiman dan kebun kurma.
j
Berwisata ke Wadi Daiqah Dam terasa nyaman dan aman. Kelihatan bahwa pemerintah benar-benar ingin membuat pengunjung merasa betah. Terutama pengunjung keluarga. Pagar keliling cukup tinggi tapi tidak mengganggu pemandangan. Lingkungan bersih. 

Saturday, December 16, 2017

Wisata Gurun Bidiya Oman


Disamping wisata bahari dan gunung, Oman juga memiliki objek wisata gurun. Untuk itulah, kami melakukan perjalanan ke kota Bidiyah. Jaraknya lebih kurang 200 km dari Azaiba Muscat. Jika perjalanan langsung, bisa ditempuh sekitar kurang dari 3 jam. Namun karena hari Jum'at, kami singgah dulu disebuah masjid di Fanja/Bid Bid. Sekitar 43 km dari Azaiba.

Ternyata ini adalah Masjid Sultan Qaboos. Berarti selama di Oman, kami telah mengunjungi 3 masjid Sultan Qaboos, yaitu di Muscat, Nizwa dan Fanja.
Selesai Shalat Jum'at, kami melanjutkan perjalanan. Disebuah SPBU kami istirahat sebetar. Sebagaimana lazimnya disini, tempat shalat wanita terpisah. Dimasjid juga ada ketentuan tidak boleh membawa anak-anak dibawah 10 tahun kedalam ruangan shalat. Oleh sebab itu, kami memilih SPBU yang ada mushalla dan restoran atau toko swalayan.
Perjalanan kami lanjutkan lagi menuju Bidiya atau Bidiyah. Kota ini terletak di Ash Sharqiyah Region. Setelah istirahat di sebuah restoran, kami langsung menuju gurun. Kendaraan kami parkir diujung jalan aspal, karena tidak cocok dipakai memasuki gurun.
Gunung pasir keemasan terlihat tidak jauh dari tempat parkir kendaraan. Dengan berjalan kaki, kami nikmati wisata gurun. Pasir halus dibukit gurun, membuat langkah tidak teratur. Kadang mundur lagi kebawah.


Kami hanya mampu mendaki hingga ke pinggang bukit. Dari sini terlihat hamparan bukit pasir yang luas. Disisi lain ada pemukiman dan kebun kurma. Terdapat juga kandang-kandang unta.
Sesekali lewat kendaraan pengunjung lain. 
Matahari terbenam dibalik bukit pasir sebelum masuk waktu maghrib. Ketika terdengar sayup suara azan, kami bergerak turun. Tidak terlihat ada lampu penerangan disekitar bukit. Menghabiskan petang menjelang malam di gurun, merupakan kesan tersendiri. 
(Azaiba, Muscat, 16 Desember 2017)

Monday, December 11, 2017

Melihat Bandar Khayran Dan Pantai Sifa

Dari atas gunung batu, kami melihat pantai di Bandar Khayran. Pantainya landai, terletak diteluk, jadi tidak terlihat ada ombak. Sudah ada beberapa kendaraan dibawah sana. Kami tidak dapat kebawah karena hambatan kendaraan. Jalan turun merpakan jalan tanah berbatu dan curam. Hanya kendaraan tertentu yang dapat turun dan naik.
Menurut informasi, lokasi ini cocok untuk berenang dan snorkling dan diving. Karena itu, Bandar Khayran menjadi salah satu tujuan wisata di Oman. Letaknya sekitar 33 km dari Azaiba, Muscat.
Gagal berenang di Bandar Khairan, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Sifa. Di pantai ini kami menghabiskan waktu petang dan awal malam. Cukup ramai pengunjung disini.Gelombang yang lumayan besar, dirasa tidak aman untuk berenang. Kami mengganti aktivitas dengan menangkap sejenis siput laut. Setelah dimasak, rasanya mirip rasa gonggong (sejenis siput di Kepulauan Riau).
Pantai Sifa berpasir halus. Airnya jernih. Tidak terlihat ada karang. Disisi lain terdapat bukit batu. Jika gelombang tidak besar, pantai Sifa cocok untuk berenang. Jarak antara Sifa Beach dan Azaiba sekitar 67 km. Melalui jalan raya dengan kondisi sangat baik. Mendekati Bandar Khayran dan pantai Sifa, melewati jalan dipegunungan batu. 
(Muscat, 12 Desember 2017)

Saturday, December 9, 2017

Piknik Ala Oman Di Eastern Mountain


Setelah mengunjungi beberapa pantai di Oman, kali ini kami piknik di gunung. Pilihannya adalah Eastern Mountain. Saya lihat di google map nama tempatnya Jebel Hat. Berjarak sekitar 216 km dari Azaiba Muscat.
Kami berangkat dari Azaiba sekitar pukul 10.30 waktu setempat menuju Nizwa. Shalat Jum'at kami lakukan di Masjid Sultan Qaboos Nizwa. Selesai Jum'atan, kami makan siang disebuah restoran sekitar Benteng Nizwa (Nizwa Fort). Singgah sebentar di masjid dekat benteng.
Sampai ditujuan sekitar pukul 4 petang. Sudah ada beberapa pengunjung lain. Matahari bersinar terang tetapi udara terasa dingin. Pemandangan dari sini memang menarik. Terlihat gugusan pegunungan batu. Ada juga pemukiman dicelah gunung. Semakin petang semakin dingin. Akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan lokasi mencari tempat yang tidak terlalu dingin.
Turun beberapa kilo meter, kami berhenti di sebuah dataran. Banyak bebatuan besar disekitarnya. Tempat yang lumayan nyaman. Dari sini terlihat pemukiman dan jalan berliku dibawah. Untuk menghangatkan badan, segera saja kami nyalakan api. Acara bakar-bakar sate dan sosis pun dimulai.
Menikmati makan malam dialam terbuka memberi sensasi tersendiri. Diufuk barat terlihat cahaya kemerahan. Semakin malam terasa semakin menarik. Dikejauhan ada banyak lampu dipemukiman penduduk. Cuaca cerah menampakkan bintang-bintang dilangit.
Ketika persediaan kayu bakar habis dimakan api, kami bersiap meninggalkan gunung. Udara dingin tidak cukup diatasi dengan jaket dan kupruk. Piknik ala Oman digunung hari ini berakhir.
Perjalanan pulang sedikit berbeda. Jalanan dipegunungan tidak/belum diterangi lampu listrik. Hanya ada penerangan di pemukiman. Kondisi jalan sangat baik. Disalah satu pemukiman(desa) kami berhenti. Numpang shalat di masjid pinggir jalan. Kamar mandi dan tempat wudhu lumayan bersih. Airnya banyak dan dingin. Sampai-sampai saya shalat sambil menggigil kedinginan.
Melalui jalanan yang sepi ditengah pegunungan malam hari ada kesan tersendiri. Sesekali melewati pemukiman/desa. Berpapasan dengan satu atau dua kendaraan lain. Setelah memasuki jalan raya utama, kondisinya berbeda. Lampu penerangan menerangi sepanjang jalan. Lalu lintas lebih ramai.
(Azaiba, Muscat 9 Desember 2017)


Friday, December 8, 2017

Menggunakan Angkutan Umum Di Ibukota Oman


Tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melaksanakan kunjungaan keberbagai tempat selama berada di Ibukota Oman Muscat, kami mencoba memanfaatkan angkutan umum. Selain taxi biasa, ada dua lagi pilihan angkutan umum di Muscat yaitu bis dan angkot. Ada juga taxi omprengn. Satu taxi ditumpangi beberapa orang.
Dari kawasan Azaiba, kami bermaksut ingin ke Matrah. Ternyata tidak ada bis atau angkot yang langsung. Harus ke Ruwi dulu. Azaiba-Ruwi jaraknya sekitar 23 km. Pakai taxi tentu mahal. Ada angkot yang menghampiri, biasa tawar menawar. Sepakat ongkosnya 400 Baisa perorang. Kami berdua bearti 800 Baisa. Pengemudi berjanji akan menunjukkan kepada kami tempat mencari taxi di Ruwi. 
Sampai ditempat taxi mangkal, kami didatangi beberapa pengemudi. Harga yang mereka tawarkan awalnya 2 RO. Kami tolak. Turun 1 RO, juga kami tolak. Sebab, menurut supir angkot tarifnya sekitar 200 Baisa. Akhirnya tercapai kesepakatan 300 Baisa. Kami harus menunggu. Tidak lama, ada 2 orang penumpang masuk. Taxi pun berangkat menuju pasar tradisional Matrah. Jarak Ruwi dan Matrah sekitar 4 km.

Pulang dari Matrah, kami ingin menggunakan bis. Tidak ada bis langsung Matrah-Azaiba. Naik bis ke Ruwi ongkosnya 200 Baisa. Bis membawa penumpang memutar dulu ke kota tua Muscat. Diterminal Ruwi terlihat ada 5 jurusan bis. Kami menaiki bis jurusan 1. Ongkos dari Ruwi ke Azaiba 300 Baisa.
Menggunakan angkutan kota di Muscat ibukota negara Oman, relatif nyaman dan aman. Tidak berdesakan. Ruangan berpendingin udara.

Thursday, December 7, 2017

Mengunjungi Pasar Tradisional (Mutrah Souq) Di Oman

Pasar tradisional Mutrah atau Mutrah Souq termasuk tujuan wisata populer di Oman. Tertarik untuk mengunjungi objek wisata tersebut, kami melakukan perjalanan dengan mengunakan angkutan umum. 
Dari kawasan Azaiba Muscat kami naik angkot ke Ruwi. Ongkosnya 400 Baisa perorang. Baisa adalah pecahan dari Real Oman. Satu RO terbagi dalam seribu Baisa. Tidak ada angkot atau bis jurusan Muscat ke Mutrah walaupun jarak Muscat-Ruwi lebih kurang sama dengan Muscat-Mutrah.
Dari Ruwi ke Mutrah Souq kami naik taxi omprengan. Ongkosnya 300 Baisa perorang. Taxi ini membawa 4 orang penumpang. Jadi ngetem dulu. Taxi menurunkan kami dibagian belakang pasar. Terasa pasar sepi- sepi aja. Waktu itu sekitar pukul 10 pagi dan bukan hari libur.
Menyusuri lorong-lorong pasar, akhirnya kami sampai dibagian depan. Bagian depan Mutrah Souq ada gerbangnya. Terletak dipinggir jalan utama Mutrah. Sisi lain jalan ini berada di pinggir pantai. Pantai ini dikenal sebagai Mutrah Corniche.
Lorong-lorong pasar tradisional Mutrah ini bercabang juga. Tidak terlalu sulit untuk menelusurinya. Dikiri kanan lorong terdapat kios. Menurut penglihatan saya, sebagian besar kios menjual pakaian jadi dan tekstil. Ada penjual gamis dan peci khas Oman, parfum dan rempah-rempah. Harga disini lebih murah. Misalnya gamis di mall berharga sekitar 4 atau 5 Real Oman, disini hanya 3 RO. Tawar menawar berlaku, namun turunnya tidak banyak.
(Muscat, 6 Desember 2017)

Wednesday, December 6, 2017

Mengunjungi Pantai Yitti Oman

Satu lagi tempat wisata alam yang menarik untuk dikunjungi di Oman adalah pantai Yitti. Letaknya sekitar 47 km dari Azaiba Muscat. Dengan kendaraan roda 4 dapat ditempuh kurang dari 1 jam. Jalan raya bagus, melintasi pegunungan batu.
Ketika sore itu kami berkunjung, sudah banyak pengunjung meninggalkan pantai. Memasuki areal pantai yang luas dan panjang, kami berpapasan dengan beberapa kendaraan. Tetapi ada juga pengunjung baru datang.
Sebagaimana lazimnya, para wisatawan lokal selalu piknik disamping kendaraannya. Boleh jadi salah satu fungsi kendaraan itu sebagai penahan angin. Sehingga tidak terlalu dingin dan dapat melakukan bakar-bakar. Kami pun melakukan hal yang sama. Setelah mendapatkan posisi, tikar digelar disamping kendaraan. Acara bakar-bakar jagung dan cumi dimulai.
Sekitar pukul 7 malam, terlihat bulan muncul. Seakan terbit dari laut, berwarna merah. Perlahan, bulan penuh menerangi pantai. Semakin terang. Menikmati jagung dan cumi bakar di pantai Yitti ditambah cahaya bulan dan bunyi deburan ombak, jadi kesan tersendiri.

Tuesday, December 5, 2017

Pantai Berbatu Kerikil Di Oman

Gunung batu dan laut merupakan pemandangan umum di Oman. Pemandangan seperti ini terlihat jelas jika kita melakukan perjalanan keluar kota. Laut dengan pantai berpasir hal biasa. Pantai berbatu kerikil tentu kurang biasa.
Di negeri kita, kerikil disebut juga batu sungai/kali. Sebab, batu tersebut adanya disekitar sungai. Ketika mengunjungi salah satu pantai di wilayah Sur Oman, saya menemukan banyak sekali batu kerikil berbagai ukuran. Tidak terlihat ada sungai. Juga tidak terlihat tanda-tanda batu itu sengaja di datangkan. 
Penasaran, saya bertanya kepada salah seorang kerabat. Menurutnya, batu itu memang dari laut. Dibawa gelombang ke pantai. Maka jadilah pantai berbatu krikil. Batu kerikil berbagai ukuran ini dapat dilihat di taman-taman kota. Untuk menambah daya taman.
Saya tidak tahu apakah batu kerikil itu juga digunakan sebagai bahan bangunan. Di lapangan terbuka, selalu telihat adanya batu-batu kerikil diantara hamparan tanah.
(Muscat Oman, 4 Desember 2017)

Monday, December 4, 2017

Piknik Ala Oman Di Pantai Sur

Tidak lama setelah meninggalkan kota Sur, kami mulai mencari posisi pantai yang nyaman untuk piknik. Beberapa kali mencari posisi, akhirnya kami menemukan pantai landai berpasir dan batu krikil. Lumayan nyaman untuk piknik. Parkir mobil pun cukup dekat. Disekitar sudah ada beberapa kelompok piknik. Ada pula yang baru datang.
Khawatir kehilangan tempat yang baik, kami segera menggelar tikar dan menurunkan bekal. Makan nasi bariani dan minum karaktea di tepi pantai memang punya kesan tersendiri. Waktu sudah menjelang maghrib.
Shalat kami lakukan ditempat itu. Wudhu menggunakan air laut. Selesai shalat, kami mempersiapkan peralatan pancing. Seorang warga lokal datang menghampiri dan menawarkan teh panas. Terjadi dialog ringan. Keramahan warga Oman.
Suasana malam yang diterangi bulan, angin tidak terlalu kencang membuat kami asik memancing. Rencana bakar-bakar tak jadi dilaksanakan. Tanpa terasa waktu setempat sudah pukul 9 malam. Sudah waktunya siap-siap untuk pulang.
Pemandangan diperjalanan pulang berbeda dengan ketika pergi. Jalan diterangi lampu, sepi. Laut dan gunung tidak terlihat. Hanya sesekali ada cahaya lampu di laut. Mungkin lampu perahu. Ketika akan memasuki wilayah Muscat, terlihat pemandangan indah. Jalan raya yang berada di pegunungan memberi kesempatan untuk melihat kota Muscat diterangi lampu-lampu.
(Muscat, 3 Desember 2017)

Sunday, December 3, 2017

Mengunjungi Sur, Salah Satu Kota Propinsi Di Oman


Ketika memasuki jalan utama setelah meninggalkan sinkhole, kami berusa mencari kedai dan tempat shalat. Ternyata kondisi di jalan raya ini sedikit berbeda dengan perjalanan ke Nizwa. Jika SPBU di jalan ke Nizwa selalu dilengkapi mushalla dan kedai kopi, maka SPBU yang kami singgahi  disini tidak memiliki fasilitas tersebut. Kami putuskan untuk menuju Sur. Sebuah ibukota propinsi. Dari Muscat jaraknya sekitar 200 km. Jalan raya yang bagus dan lalu lintas sangat lancar membuat kami "tergoda" untuk menelusuri jalan ini. Apalagi pemandangan dikiri dan kanan sangat menarik. Dikanan jalan terlihat pegunungan batu. Dikiri jalan terlihat laut lepas.
Menjelang memasuki kota Sur, terlihat ada pelabuhan. Ada tulisan OLNG. Mungkin maksudnya LNG nya Oman. Kota Sur terletak dipinggir laut. Ada fasilias umum bagi masyarakat untuk menikmati pemandangan laut berupa pelataran yang dilengkapi banyak bangku panjang menghadap ke laut.. Ada juga saung. Banyak hotel.
Setelah melaksanakan shalat disebuah masjid, kami bermaksud mencari restoran Oman. Ingin menikmati nasi bariani atau nasi mandi. Kami mengalami sedikit kesulitan. Apakah karena hari Jum'at sehingga banyak rumah makan tutup atau belum buka. Mungkin juga karena kami berada pada posisi yang kurang tepat. Beberapa kali mencoba, akhirnya kami dapatkan juga.
Berbekal nasi bariani, cai (karaktea) beserta bahan bakar-bakaran berupa sotong, sosis dan jagung, termasuk alat pembakarnya, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai. Tentu saja aktivitasnya piknik ala Oman.

Saturday, December 2, 2017

Mengunjungi Hawiyat Najm/Bimmah Sinkhole Oman


Hari itu kami bermaksut melanjutkan jelajah Oman ke Hawiyat Najm (Sinkhole), disebut juga Bimmah Sinkhole. Sekitar satu setengah jam perjalanan dari Azaiba Muscat, kami tiba disana. Ternyata sudah banyak sekali pengunjung, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Pelataran parkir yang disediakan sudah penuh oleh kendaraan. Kelihatan juga kendaraan dengan plat nomor dari luar Oman, antara lain Dubai. Beberapa kendaraan parkir di tanah berbatu sekitar pelataran parkir. Kami ikutan parkir disana.
Bimmah Sinkhole merupakan lobang besar sepanjang 70 meter, lebar 50 meter dan dalam 20 meter (kurang lebih). Airnya berwarna hijau kebiruan. Banyak yang berenang, banyak pula yang sekedar melihat-lihat disekitar air dan dari atas. Untuk turun, disediakan tangga berpagar. 
Areal disekitar sinkhole lumayan luas. Ditanami pepohonandisamping adanya tanaman asli dan bunga. Terdapat juga saung-saung dan toilet. Walaupun merupakan objek wisata terkenal, masuk gratis. Tidak ada penjual makanan dan minuman disini. Tersedia air minum gratis. Nampak bahwa objek wisata ini dirawat dengan baik sehingga memberi kenyamanan bagi wisatawan.
Melihat ramainya pengunjung, kami memutuskan untuk tidak berlama-lama. Kami ingin melaksanakan shalat dan makan siang.

Friday, December 1, 2017

Berkunjung Ke Museum Nasional Oman

Walaupun harga tiket relatif sedikit mahal, namun kekaguman muncul setelah melihat dan mengamati isi museum. Gedung megah dua lantai diisi dengan berbagai barang-barang kuno, kreasi seni dan pajangan lainnya. Ada pula bioskop kecil yang memutar film dokumenter tentang sejarah Oman.

Awal memasuki ruangan, pengunjung dapat melihat berbagai model perahu dan perlengkapannya. Melambangkan bahwa masyarakat Oman dulu adalah masyarakat bahari. Saya tertarik dengan sebuah jangkar bertahun 1622-1624. Terbuat dari batu setinggi kurang lebih 2 meter. Terdapat juga berbagai peralatan pembuatan perahu dan peralatan navigasi zaman dulu. dDiruangan lain terpajang rapi berbagai pedang serta senjata tradisional seperti panah, kapak dan pisau. Sebuah ruangan tertutup berfungi sebagai bioskop. Film dokumenter menggunakan bahasa Arab dan Inggeris.


Dilantai atas terpajang berbagai dukumen, termasuk dokumen yang berhubungan dengan Islam. Sebuah gramofon dan beberapa piring hitam terpajang diruangan lantai dua ini. Ada potongan dinding batu dengan pintunya. Untuk menuju ke lantai dua, dapat menggunakan lift atau tangga.
Ketika kami berkunjung ke museum, banyak wisatawan mancanegara dengan serius mengamati pajangan. Disebuah ruangan, tersedia kopi dan buah kurma. Seorang petugas museum mempersilakan pengunjung menikmatinya dengan menuangkan kopi ke gelas kecil
Cara minum kopinya unik. Kopi tidak pakai gula. Jadi, makan kurma dulu baru minum kopi. Manisnya buah kurma menjadi pemanis kopi. Kami membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menelusuri pajangan di museum. Termasuk nonton film dokumenter.
(Muscat, 30 Nopember 2017)

Thursday, November 30, 2017

Melihat Tanaman Dan Burung Dimanjakan Di Muscat Oman


Sebagai ibukota Oman, Muscat terus berbenah. Banyak wisatawan manca negara berkunjung. Kota ini memang memberi kenyamanan. Masyarakatnya ramah, kotanya tertib dan bersih, banyak pepohonan dan taman. Banyak pula burung bebas terbang.
Ketika berkunjung ke Muscat bulan Nopember 2017, saya melihat pohon beserta tanaman lainnya benar- benar dirawat. Sebagian besar pohon di taman dan dipinggir jalan dialiri air melalui slang/pipa. Pada waktu pagi terlihat air keluar dari slang/ pipa. Sehingga pangkal pohon terlihat basah.

Penyiraman bunga-bunga juga melalui slang/pipa. Rumput disiram dengan semprotan air kecil. Dengan demikian, tanaman tersebut terlihat tumbuh subur. Daunnya menghijau dan bunga warna warni mekar. Pemandangan yang memberi kenyamanan.
Diantara pohon, rumput dan bunga dengan mudah dapat dilihat beberapa jenis burung. Bahkan ada burung perkutut dan balam yang bebas berkeliaran. Burung lainnya adalah gagak, merpati, belibis. Ada burung lain saya tidak tahu namanya.
Burung merpati, gagak dan ( belibis?) banyak ditemukan di pinggir pantai. Dipinggir pantai Mutrah, saya sempat melihat seseorang turun dari mobil membawa bungkusan. Ternyata bungkusan tersebut berisi makanan burung yang diletakkan disuatu tempat. Burung-burung berdatangan. Orang tersebut juga menuangkan air dari jerigen ke wadah terbuka sehingga burung-burung dapat minum. Sepertinya masyarakat tempatan juga memiliki keperdulian terhadap lingkungan.


Oman memang layak dijadikan tujuan wisata dunia. Banyak objek wisata. Lingkungan aman dan nyaman. Ada gunung batu berbagai bentuk. Ada taman yang menghijau. Ada laut dan pantai. Semuanya memikiki keindahan tersendiri.

Wednesday, November 29, 2017

Mengunjungi Masjid Sultan Qaboos Di Nizwa Oman

Ketika mengunjungi Nizwa, kami bermaksud melaksanakan kewajiban shalat di masjid. Dari jalan raya terlihat sebuah masjid besar. Kami menuju kesana. Di depan masjid ada rambu yang menyatakan bahwa masjid tersebut adalah Masjid Sultan Qaboos. 
Berbeda dengan Masjid Sultan Qaboos yang di Muscat, masjid ini ukurannya lebih kecil. Pekarangannya juga tidak seluas yang di Muscat. Namun kesan megah tetap terlihat. Didominasi warna coklat muda ( menurut saya).
Menurut informasi, masjid ini kedua terbesar di Oman. Begitu luasnya masjid, kami sedikit kesulitan mencari tempat wuduk.
Kesan megah semakin terlihat diruangan utama dan koridornya. Sebagaimana lazimnya masjid disini, ruangan tempat shalat wanita terpisah dari tempat shalat laki-laki.